![]() |
||||||||||||
// 12) Liputan Berita TerbaruFikom Unpad Rayakan Dies ke-49 – 29/10/2009 Laporan oleh: Anton Sumantri [Unpad.ac.id, 25/10] Halaman depan Dekanat Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad hari ini, Senin (25/10) tampak lebih sesak dari biasanya. Pagi itu, keluarga besar Fikom Unpad berpartisipasi dalam kegiatan bazaar, gerak jalan, dan ragam acara lainnya dalam rangka merayakan Dies Natalis Fikom Unpad ke-49. Acara ini turut dimeriahkan oleh seluruh sivitas akademika Fikom. Tidak hanya mahasiswa, para pimpinan, baik di dekanat maupun Jurusan, tenaga pengajar, staf, sampai para petugas kebersihan ikut memeriahkan acara ini, tutur Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan Fikom Unpad, Drs. Aceng Abdullah M.Si. Bazaar tersebut diikuti segenap Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) baik yang berbasis olah raga, minat dan bakat maupun penalaran. Tak hanya itu, para staf akademik pun tak mau ketinggalan. Mereka juga menempati stan tertentu, termasuk Dharma Wanita Fikom Unpad. Sebelumnya, mahasiswa Fikom Unpad telah pula mengadakan Ekspedisi Jawa-Bali dengan bersepeda untuk memperingati hari ulang tahun Fikom. Kini, mereka masih dalam … (Selengkapnya)
Informasi Kampus Terbaru“perhatian” Pengirim: novidamayanti (novicute_24@yahoo.co.id) Untuk semua mahasiswa Fikom Unpad, ambil KRS di jurusan masing2 sebelum UTS spy nanti lg ujian sdh punya KRS, dan tidak ada alasan pd saat ambil Kartu Ujian KRSnya blm diambil. KRS tidak boleh hilang smp anda lulus dr Fikom … (Selengkapnya) Informasi Lainnya:
Bursa Kerja TerbaruMedia Planning-Job Vacancy Waktu Kirim: 02/02/2010 – 11:56:10 Starcom Mediavest Indonesia, media grup terdepan dalam innovasi media komunikasi, mencari new inspired media/digital planning & buying talents untuk ikut berkembang & berkreasi bersama. Anda yang tertarik bekerja di dalam lingkungan bisnis professional yang kreatif dan dinamis, memiliki latar belakang: bisnis, marketing komunikasi dan digital (atau latar belakang atau pengalaman lainnya), bisa mengirimkan resume ke: Artikel TerbaruAvatar dan Hiruk Pikuk di Kopenhagen Kata Kunci: Avatar, libidinal, Zeus, Kapitalisme, Global, Pandora, Emisi, Kopenhagen Avatar dan Hiruk Pikuk di Kopenhagen Oleh: Andre Vincent Wenas Everything is backwards now, like out there is the true world and in here is the dream Dan… They’ve sent us a message… that they can take whatever they want. Well we will send them a message. That this… this is our land! – Jake Sully, dalam film AVATAR, disutradarai James Cameron, 2009. *** Mahadewa Zeus memerintahkan Haphaestus untuk menciptakan perempuan bernama Pandora. Perempuan ini (Pandora) sebetulnya dicetak dari bumi … (Selengkapnya) Kritik & Saran Terbaru25/12/2009 – 23:07:10 situs baru Obama Indonesia >> www.obama-impersonator.com salam, |
||||||||||||
nama sukito
LA asli
aktifitas sehari-hari yach biasa ama anak2 lainya….pokoknya gak jauh beda dech…………..
moto idup: hidup adalah pilihan
Profil Program Studi
| Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang | ||||||
| Program Studi : Ilmu Komunikasi, Akreditasi A | ||||||
| Jenjang : S-1 | ||||||
| Tanggal Berdiri | : | 28 Juli 1986 | ||||
| Ketua Program Studi | : | FRIDA KUSUMASTUTI | ||||
| Nomor Telepon P.S. | : | (0341) 464318 psw. 135 | ||||
| Konsentrasi Jurusan | : |
|
||||
| SKS Yang Harus Ditempuh | : | 148 | ||||
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi diantara keduanya. Pada umumnya, komunikasi dilakukan dengan menggunakan kata-kata (lisan) yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi dengan bahasa nonverbal.
Daftar isi |
//
[sunting] Sejarah komunikasi
Pada awal kehidupan di dunia, komunikasi digunakan untuk mengungkapkan kebutuhan organis. Sinyal-sinyal kimiawi pada organisme awal digunakan untuk reproduksi. Seiring dengan evolusi kehidupan, maka sinyal-sinyal kimiawi primitif yang digunakan dalam berkomunikasi juga ikut berevolusi dan membuka peluang terjadinya perilaku yang lebih rumit seperti tarian kawin pada ikan. [1].
Pada binatang, selain untuk seks, komunikasi juga dilakukan untuk menunjukkan keunggulan, biasanya dengan sikap menyerang. Munurut sejarah evolusi sekitar 250 juta tahun yang lalu munculnya “otak reptil” menjadi penting karena otak memungkinkan reaksi-reaksi fisiologis terhadap kejadian di dunia luar yang kita kenal sebagai emosi. Pada manusia modern, otak reptil ini masih terdapat pada sistem limbik otak manusia, dan hanya dilapisi oleh otak lain “tingkat tinggi”.
Manusia berkomunikasi untuk membagi pengetahuan dan pengalaman. Bentuk umum komunikasi manusia termasuk bahasa sinyal, bicara, tulisan, gerakan, dan penyiaran. Komunikasi dapat berupa interaktif, transaktif, bertujuan, atau tak bertujuan.
Melalui komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain. Akan tetapi, komunikasi hanya akan efektif apabila pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan sama oleh penerima pesan tersebut.
Walaupun komunikasi sudah dipelajari sejak lama dan termasuk “barang antik”, topik ini menjadi penting khususnya pada abad 20 karena pertumbuhan komunikasi digambarkan sebagai “penemuan yang revolusioner”, hal ini dikarenakan peningkatan teknologi komunikasi yang pesat seperti radio. Televisi, telepon, satelit dan jaringan komuter seiring dengan industiralisasi bidang usaha yang besar dan politik yang mendunia. Komunikasi dalam tingkat akademi mungkin telah memiliki departemen sendiri dimana komunikasi dibagi-bagi menjadi komunikasi masa, komunikasi bagi pembawa acara, humas dan lainnya, namun subyeknya akan tetap. Pekerjaan dalam komunikasi mencerminkan keberagaman komunikasi itu sendiri. Mencari teori komunikasi ya== Sejarah komunikasi ==
Pada awal kehidupan di dunia, komunikasi digunakan untuk mengungkapkan kebutuhan organis. Sinyal-sinyal kimiawi pada organisme awal digunakan untuk reproduksi. Seiring dengan evolusi kehidupan, maka sinyal-sinyal kimiawi primitif yang digunakan dalam berkomunikasi juga ikut berevolusi dan membuka peluang terjadinya perilaku yang lebih rumit seperti tarian kawin pada ikan. [2].
Pada binatang, selain untuk seks, komunikasi juga dilakukan untuk menunjukkan keunggulan, biasanya dengan sikap menyerang. Munurut sejarah evolusi sekitar 250 juta tahun yang lalu munculnya “otak reptil” menjadi penting karena otak memungkinkan reaksi-reaksi fisiologis terhadap kejadian di dunia luar yang kita kenal sebagai emosi. Pada manusia modern, otak reptil ini masih terdapat pada sistem limbik otak manusia, dan hanya dilapisi oleh otak lain “tingkat tinggi”.
Manusia berkomunikasi untuk membagi pengetahuan dan pengalaman. Bentuk umum komunikasi manusia termasuk bahasa sinyal, bicara, tulisan, gerakan, dan penyiaran. Komunikasi dapat berupa interaktif, transaktif, bertujuan, atau tak bertujuan.
Melalui komunikasi, sikap dan perasaan seseorang atau sekelompok orang dapat dipahami oleh pihak lain. Akan tetapi, komunikasi hanya akan efektif apabila pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan sama oleh penerima pesan tersebut.
Walaupun komunikasi sudah dipelajari sejak lama dan termasuk “barang antik”, topik ini menjadi penting khususnya pada abad 20 karena pertumbuhan komunikasi digambarkan sebagai “penemuan yang revolusioner”, hal ini dikarenakan peningkatan teknologi komunikasi yang pesat seperti radio. Televisi, telepon, satelit dan jaringan komuter seiring dengan industiralisasi bidang usaha yang besar dan politik yang mendunia. Komunikasi dalam tingkat akademi mungkin telah memiliki departemen sendiri dimana komunikasi dibagi-bagi menjadi komunikasi masa, komunikasi bagi pembawa acara, humas dan lainnya, namun subyeknya akan tetap. Pekerjaan dalam komunikasi mencerminkan keberagaman komunikasi itu sendiri. Mencari teori komunikasi yang terbaik pun tidak akan berguna karena kong terbaik pun tidak akan berguna karena komunikasi adalah kegiatan yang lebih dari satu aktivitas. Masing-masing teori dipandang dari proses dan sudut pandang yang berbeda dimana secara terpisah mereka mengacu dari sudut pandang mereka sendiri.
[sunting] Komponen komunikasi
Komponen komunikasi adalah hal-hal yang harus ada agar komunikasi bisa berlangsung dengan baik. Menurut Laswell komponen-komponen komunikasi adalah:
- Pengirim atau komunikator (sender) adalah pihak yang mengirimkan pesan kepada pihak lain.
- Pesan (message) adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh satu pihak kepada pihak lain.
- Saluran (channel) adalah media dimana pesan disampaikan kepada komunikan. dalam komunikasi antar-pribadi (tatap muka) saluran dapat berupa udara yang mengalirkan getaran nada/suara.
- Penerima atau komunikate (receiver) adalah pihak yang menerima pesan dari pihak lain
- Umpan balik (feedback) adalah tanggapan dari penerimaan pesan atas isi pesan yang disampaikannya.
- Aturan yang disepakati para pelaku komunikasi tentang bagaimana komunikasi itu akan dijalankan (“Protokol”)
[sunting] Proses komunikasi
Secara ringkas, proses berlangsungnya komunikasi bisa digambarkan seperti berikut.
- Komunikator (sender) yang mempunyai maksud berkomunikasi dengan orang lain mengirimkan suatu pesan kepada orang yang dimaksud. Pesan yang disampaikan itu bisa berupa informasi dalam bentuk bahasa ataupun lewat simbol-simbol yang bisa dimengerti kedua pihak.
- Pesan (message) itu disampaikan atau dibawa melalui suatu media atau saluran baik secara langsung maupun tidak langsung. Contohnya berbicara langsung melalui telepon, surat, e-mail, atau media lainnya.
media (channel) alat yang menjadi penyampai pesan dari komunikator ke komunikan
- Komunikan (receiver) menerima pesan yang disampaikan dan menerjemahkan isi pesan yang diterimanya ke dalam bahasa yang dimengerti oleh komunikan itu sendiri.
- Komunikan (receiver) memberikan umpan balik (feedback) atau tanggapan atas pesan yang dikirimkan kepadanya, apakah dia mengerti atau memahami pesan yang dimaksud oleh si pengirim.
[sunting] Teknologi komunikasi
Dalam telekomunikasi, komunikasi radio dua-arah melewati Atlantik pertama terjadi pada 25 Juli 1920.
Dengan berkembangnya teknologi, protokol komunikasi juga turut berkembang, contohnya, Thomas Edison telah menemukan bahwa “halo” merupakan kata sambutan yang paling tidak berambiguasi melalui suara dari kejauhan; kata sambutan lain seperti hail dapat mudah hilang atau terganggu dalam transmisi.
[sunting] Batasan dalam komunikasi
Batasan dalam komunikasi termasuk:
- Bahasa
- Penundaan waktu
- Politik
[sunting] Referensi
- ^ (id) Larry Gonick, Kartun (non) Komunikasi, guna dan salah guna informasi dalam dunia modern. Kepustakaan Populer Gramedia, Juli 2007. (diterjemahkan dari Guide to (non) Communication HarperClollins Publisher, Inc copyright 1993. ISBN 978-979-9100-75-7
- ^ (id) Larry Gonick, Kartun (non) Komunikasi, guna dan salah guna informasi dalam dunia modern. Kepustakaan Populer Gramedia, Juli 2007. (diterjemahkan dari Guide to (non) Communication HarperClollins Publisher, Inc copyright 1993. ISBN 978-979-9100-75-7
Witzany, Guenther. “The Logos of the Bios 2. Bio-communication. Umweb, Helsinki (2007). [1] Dance, Frank. “The ‘concept’ of communication. Journal of Communication, 20, 201-210 (1970). [2] Witzany, Guenther. “The Logos of the Bios 2. Bio-communication. Umweb, Helsinki (2007).
[2] Witzany, Guenther. “The Logos of the Bios 2. Bio-communication. Umweb, Helsinki (2007).
[sunting] Pranala luar
- Departemen Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Republik Indonesia
- Milis Public Speaking
- Sekolah Public Speaking
Belajar Menulis Sejak Dini
By admin at 6 September, 2009, 12:13 am
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keterampilan menulis itu sangat penting dalam meniti aktivitas keseharian. Banyak guru dan dosen yang mengeluh terkendala kenaikan pangkat hanya gara-gara tidak mampu menulis.
Usai mengikuti sebuah diskusi dengan tema Jurnalistik dan Dunia Tulis Menulis dengan sejumlah siswa SMA di Banda Aceh belum lama ini, beberapa siswa menyatakan keinginannya untuk serius menekuni profesi menulis (mengarang).
Soalnya, menurut mereka, jadi pengarang itu enak dan menyenangkan. Banyak penggemar (fans), bahagia ketika tulisannya dimuat di koran atau majalah, dan akhirnya mendapat sekadar uang lelah (honor) dari redaksi yang dapat digunakan untuk menggemukkan tabungan atau mengajak teman sekelas untuk makan bakso bersama di kantin sekolah. Wah, menyenangkan sekali!
Sekarang sudah semakin banyak generasi muda, termasuk di Banda Aceh dan kabupaten/kota lainnya di Aceh yang menyukai kegiatan tulis menulis. Apa saja mereka tulis, ya puisi, cerita pendek, artikel agama, maupun kisah hidup tokoh-tokoh terkenal.
Motivasi para siswa itu pun semakin bertambah, mengingat telah hadirnya berbagai rubrik yang disediakan pengelola surat kabar maupun majalah yang terbit di Aceh. Dengan demikian, aspirasi yang disuarakan generasi muda dapat dikirimkan untuk dimuat di media massa.
Selain itu, kehadiran majalah dinding (mading) serta majalah sekolah yang diterbitkan pengurus OSIS bekerjasama dengan pihak sekolah akan semakin menambah wadah pembelajaran bagi para peminat di bidang tulis-menulis. Begitu pula di jenjang perguruan tinggi. Kini, sudah ada sejumlah media kampus yang terbit sekaligus sebagai wadah menampung karya yang dihasilkan para mahasiswa Aceh.
Pengalaman saya saat dipercayakan menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Gema Madrasah MAN I Banda Aceh (1991-1992), setiap penerbitan media tiga bulanan tersebut sangat banyak menerima kiriman naskah puisi, cerpen, bahkan opini dari para siswa. Di jajaran redaksi, kami sepakat untuk memberikan apresiasi atas animo dari para pengirim naskah. Walaupun tulisan hasil karya siswa itu di sana-sini belum sempurna betul, tetapi dari segi kemauan untuk mengasah potensi diri di bidang tulis-menulis patut diberikan acungan jempol.
Hanya saja, agar ke depan menjadi penulis handal, mereka hendaklah terus belajar dan belajar, serta jangan bosan-bosannya membaca karya penulis-penulis ternama, baik di Aceh maupun tingkat nasional. Melalui proses belajar sejak dini inilah, akan menjadi modal demi suksesnya meniti karier di bidang tulis-menulis. Saya mencatat, untuk konteks Aceh saja, ada beberapa nama penulis yang telah mengasah diri sejak jenjang SMP maupun SMA, kemudian terjun lebih aktif dan selanjutnya menjadi wartawan.
Kata banyak orang, memang, menulis itu gampang-gampang susah. Gampang bagi orang yang sudah terbiasa. Tetapi, terasa sangat sulit untuk kalangan yang baru mencoba berlatih untuk menulis. Bayangkan saja, betapa banyak ide yang terkadang muncul di benak kita. Namun, karena belum terbiasa menulis, terkadang sungguh sulit untuk memulai sebuah tulisan yang baik. Karena itu, kepada para penulis pemula, sering disarankan membaca buku-buku tentang jurnalistik maupun buku mengenai panduan menulis untuk pemula yang kini banyak dijual di toko buku.
Bila Anda tak memiliki banyak uang untuk membeli buku tersebut, boleh pula sering-sering mengunjungi pustaka ataupun membacanya di internet. Hal demikian tentunya sangat bermanfaat untuk membimbing siapa saja yang berminat dan berbakat untuk aktif menjadi calon penulis handal.
Belajar dan belajar. Ya, itulah kata kunci untuk menjadi seorang penulis yang baik. Mencoba berlatih secara kontinyu akan membuat para penulis pemula bakal terus terampil dalam menuangkan ide dan imajinasinya di atas kertas. Selain itu, jangan cepat berputus asa dan menyerah bila karya yang dikirimkan ke redaksi suratkabar maupun majalah, tidak dimuat. Siapa tahu, mungkin karya tersebut masih banyak kelemahan sehingga mengharuskan si penulis belajar dan belajar lagi untuk memperbaiki kelemahan yang ada.
Biasanya para redaktur yang bekerja di media massa akan bersedia pula membimbing para penulis pemula agar ketidaksempurnaan yang ada itu dapat diperbaiki. Jika saja komunikasi timbal-balik antara penulis pemula dengan para redaktur media massa terjalin lancar, maka proses pembimbingan terhadap generasi muda peminat tulis-menulis bakal lebih membawa hasil yang membanggakan.
Cepat menyerah ketika karya kita ditolak redaksi merupakan kegagalan awal yang semestinya tidak terjadi pada penulis pemula. Sebaliknya, saat tulisan gagal terpublikasi ke publik karena dinilai masih ada kelemahan oleh redaksi, maka pada kesempatan lain hendaknya penulis pemula dapat terus berkarya lagi. Coba dan mencoba terus dengan tetap melakukan perbaikan bila memang dirasakan ada yang kurang sempurna terhadap tulisan terdahulu.
Menulis adalah kemampuan mengasah potensi yang ada. Tidak semua penulis muncul karena faktor keturunan, karena misalnya orangtua atau kerabat dekatnya juga seorang penulis lepas ataupun wartawan. Namun, banyak juga di antara penulis yang muncul secara otodidak. Belajar sendiri secara serius.
Bakat yang ada dalam dirinya itu terus dibina, sehingga kelak mampu menghasilkan karya-karya yang bermutu. Dan betapa hatinya senang, ketika karya kita dimuat di koran maupun majalah. Tak jarang, sms, telepon, maupun ungkapan yang bernada pujian datang dari teman-teman sekelas, guru di sekolah, tetangga, maupun orangtua. Hal tersebut tentu saja akan lebih memotivasi para penulis pemula untuk terus berkarya dan berkarya.
Memiliki keterampilan menulis juga merupakan rahmat dari Allah SWT. Sebab, tidak semua orang di dunia ini yang mampu menulis secara baik. Terkadang ada di antara kita yang terkenal pintar berorator (pidato) saja, namun saat hendak menuangkannya dalam bentuk tulisan, ia tidak mampu. Syukur-syukur jika kita mampu kedua-duanya (orator dan menulis). Nilai plus ini akan menjadi bekal berharga bagi pengembangan karier dan masa depan orang tersebut.
Sering kita dengar saat ini tentang keluhan para guru yang terkendala kenaikan pangkatnya karena ketidakmampuan membuat karya tulis ilmiah. Tidak jarang, kemudian ada di antara kalangan cekgu yang terpaksa mengeluarkan rupiah yang lumayan banyak untuk meminta bantuan orang lain membuat karya tulis ilmiah itu. Jadi, sangat berbahagia siapa saja yang mahir tulis-menulis, sehingga tidak selalu bergantung pada orang lain seperti pada contoh yang dialami banyak kalangan pendidik di negeri ini.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keterampilan menulis itu sangat penting dalam meniti aktivitas keseharian. Untuk menjadi penulis yang handal, perlu keseriusan dalam berlatih dan mengasah potensi diri. Kehadiran berbagai suratkabar maupun majalah di Aceh sekarang merupakan peluang yang bagus bagi penulis pemula untuk mengirimkan karya-karya terbaik mereka.
Kepada siapa pun yang berminat mengembangkan bakat di bidang tulis-menulis, berkarya terus untuk kemajuan Aceh tercinta ini. Semoga saja, karya-karya yang kita hasilkan akan memberikan kontribusi dan bermanfaat bagi kepentingan orang banyak. Sebab, melalui jalur inilah, kita juga bisa berdakwah, sebagaimana anjuran Allah SWT dan Rasul-Nya. Teruslah menulis![]
Oleh Hilmi Hasballah, mantan Pemimpin Redaksi Majalah Gema Madrasah MAN I Banda Aceh (1991-1992), kini CPNS di Pemkab Abdya
Comments
<!–RSS feed for comments on this post. TrackBack URI
–>
Leave a comment
Recent Comments
-
- Oyah: Mampirr, slm knal yaaa… please follow me, I’ll follow u + …
- Edwin Abdurrahman: Saya tertarik dg ungkapan “nekmat poe ubee paleut, long bloe…
- Bahagia Arbi: nice story my friend! teruskan menulismu…
- MOHAMMAD: Kalau agama hindu, aku percaya..aku sudah beberapa kali ke b…
- MOHAMMAD: KALAU BILANG SOAL …………………TEORI TOLERANSI ORANG…
-
Artikel Terkini
- APBA 2010 (Tak) Berpihak Rakyat?
- Satpol PP dan WH Kembali Jadi Sorotan, Salah Siapa?
- Akankah ‘Sosok Abdullah Muda’ Kembali?
- Penyerap Aspirasi Rakyat atau Penyerap Dana Rakyat?
- Nèkmat Po Ubé Paleut, Dibloë Han Èk, Dilakei Han Tijeut
- Isabel Lengiesasa
- Histeria Budaya Kelisanan
- Rukon dalam Budaya Aceh
- Mereka yang Terasing di Negeri Sendiri
- Investasi Minat
-
Harian Aceh- Polres Pidie Gagalkan Penyeludupan Ganja
- Polisi Periksa Koordinator Jang-Ko Enam Jam, Jang-Ko Mengadu ke Dewan
- Mogok Angkutan L-300 Berakhir, Sejumlah Tuntutan Organda Terpenuhi
- 43 Prajurit Kodam IM Dipecat, Ganja dan SS Dimusnahkan
- Yakult Buka Kantor Cabang di Banda Aceh
- Dua PLTG ‘Nganggur’, Arun Mesti Bantu Krisis Listrik di Aceh
- Kasus Penyimpangan DAK Abdya, Mantan Kadisdik Ditahan ,Bupati Abdya Diduga Terlibat
- Perkara Anggota TNI Belot ke GAM, Besok, Terdakwa Asral Divonis
- Aceh Utara Ingatkan Lhokseumawe, ‘Tak Ada Aset Gratis!’
- Program Kerja PWSTA Perlu Diperbaharui
-
Ads
http://masterkey.masterweb.net/aff.php?aff=3124 -
//
Link
Hari Pendidikan Nasional yang diperingati pada tanggal 2 Mei setiap tahunnya telah menjadi momentum untuk memperingatkan segenap negeri akan pentingnya arti pendidikan bagi anak negeri yang sangat kaya ini. Di tahun 2003, telah dilahirkan pula Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional melalui UU No. 20 tahun 2003 yang menggantikan UU No. 2 tahun 1989. Tersurat jelas dalam UU tersebut bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.
Bila merujuk pada Undang-Undang Dasar 1945, tersebutkan dalam pasal 31 ayat 1 bahwa setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan dan pada ayat 2 disebutkan bahwa setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Dan dalam UU No. 20/2003 pasal 5, bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu, warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus, warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus, warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus serta setiap warga negara berhak mendapat kesempatan meningkatkan pendidikan sepanjang hayat.
Peran masyarakat dalam pendidikan nasional, terutama keterlibatan di dalam perencanaan hingga evaluasi masih dipandang sebagai sebuah kotak keterlibatan pasif. Inisiatif aktif masyarakat masih dipandang sebagai hal yang tidak dianggap penting. Padahal secara jelas di dalam pasal 8 UU No. 20/2003 disebutkan bahwa masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi program pendidikan. Peran serta masyarakat saat ini hanyalah dalam bentuk Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, dimana proses pembentukan komite sekolahpun belum keseluruhannya dilakukan dengan proses yang terbuka dan partisipatif.
Kewajiban pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan dasar pun hingga saat ini masih sangat jauh dari yang diharapkan. Masih terlalu banyak penduduk Indonesia yang belum tersentuh pendidikan. Selain itu, layanan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan bermutu pun masih hanya di dalam angan. Lebih jauh, anggaran untuk pendidikan (di luar gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan) di dalam APBN maupun APBD hingga saat ini masih dibawah 20% sebagaimana amanat pasal 31 ayat 4 UUD 1945 dan pasal 49 UU No. 20/2003, bahkan hingga saat ini hanya berkisar diantara 2-5%.
Bila melihat peristiwa yang belum lama terjadi di Indonesia, misalnya kasus tukar guling SMP Negeri 56 Jakarta serta kasus Kampar adalah sebongkah cerminan dari kondisi pendidikan di Indonesia, dimana kalangan pendidik dan kepentingan pendidikan masihlah sangat jauh dari sebuah kepentingan dan kebutuhan bersama, dimana pendidikan masih menjadi korban dari penguasa.
Sementara di berbagai daerah, pendidikan pun masih berada dalam kondisi keprihatinan. Mulai dari kekurangan tenaga pengajar, fasilitas pendidikan hingga sukarnya masyarakat untuk mengikuti pendidikan karena permasalahan ekonomi dan kebutuhan hidup. Pada beberapa wilayah, anak-anak yang memiliki keinginan untuk bersekolah harus membantu keluarga untuk mencukupi kebutuhan hidup karena semakin sukarnya akses masyarakat terhadap sumber kehidupan mereka.
Belum lagi bila berbicara pada kualitas pendidikan Indonesia yang hanya berorientasi pada pembunuhan kreatifitas berpikir dan berkarya serta hanya menciptakan pekerja. Kurikulum yang ada dalam sistem pendidikan Indonesia saat ini sangat membuat peserta didik menjadi pintar namun tidak menjadi cerdas. Pembunuhan kreatifitas ini disebabkan pula karena paradigma pemerintah Indonesia yang mengarahkan masyarakatnya pada penciptaan tenaga kerja untuk pemenuhan kebutuhan industri yang sedang gencar-gencarnya ditumbuhsuburkan di Indonesia.
Sistem pendidikan nasional yang telah berlangsung hingga saat ini masih cenderung mengeksploitasi pemikiran peserta didik. Indikator yang dipergunakanpun cenderung menggunakan indikator kepintaran, sehingga secara nilai di dalam rapor maupun ijasah tidak serta merta menunjukkan peserta didik akan mampu bersaing maupun bertahan di tengah gencarnya industrialisasi yang berlangsung saat ini.
Pendidikan juga saat ini telah menjadi sebuah industri. Bukan lagi sebagai sebuah upaya pembangkitan kesadaran kritis. Hal ini mengakibatkan terjadinya praktek jual-beli gelar, jual-beli ijasah hingga jual-beli nilai. Belum lagi diakibatkan kurangnya dukungan pemerintah terhadap kebutuhan tempat belajar, telah menjadikan tumbuhnya bisnis-bisnis pendidikan yang mau tidak mau semakin membuat rakyat yang tidak mampu semakin terpuruk. Pendidikan hanyalah bagi mereka yang telah memiliki ekonomi yang kuat, sedangkan bagi kalangan miskin, pendidikan hanyalah sebuah mimpi. Ironinya, ketika ada inisiatif untuk membangun wadah-wadah pendidikan alternatif, sebagian besar dipandang sebagai upaya membangun pemberontakan.
Dunia pendidikan sebagai ruang bagi peningkatan kapasitas anak bangsa haruslah dimulai dengan sebuah cara pandang bahwa pendidikan adalah bagian untuk mengembangkan potensi, daya pikir dan daya nalar serta pengembangan kreatifitas yang dimiliki. Sistem pendidikan yang mengebiri ketiga hal tersebut hanyalah akan menciptakan keterpurukan sumberdaya manusia yang dimiliki bangsa ini yang hanya akan menjadikan Indonesia tetap terjajah dan tetap di bawah ketiak bangsa asing.
Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana sistem pendidikan di Indonesia menciptakan anak bangsa yang memiliki sensitifitas terhadap lingkungan hidup dan krisis sumber-sumber kehidupan, serta mendorong terjadinya sebuah kebersamaan dalam keadilan hak. Sistem pendidikan harus lebih ditujukan agar terjadi keseimbangan terhadap ketersediaan sumberdaya alam serta kepentingan-kepentingan ekonomi dengan tidak meninggalkan sistem sosial dan budaya yang telah dimiliki oleh bangsa Indonesia.
Hari Pendidikan Nasional tahun ini di tengah-tengah pertarungan politik Indonesia sudah selayaknya menjadi sebuah tonggak bagi bangkitnya bangsa Indonesia dari keterpurukan serta lepasnya Indonesia dari ?penjajahan?? bangsa asing. Sudah saatnya Indonesia berdiri di atas kaki sendiri dengan sebuah kesejahteraan sejati bagi seluruh masyarakat I
IDUL FITRI DENGAN BEKAL “LAELATUL QADAR”*oleh M. Syamsi AliIndeks Islam | Indeks Artikel ISNET Homepage | MEDIA Homepage | Program Kerja | Koleksi | Anggota |
|
PendahuluanTanpa terasa Ramadhan yang kita sambut dengan riang kini bergegas meninggalkan kita. Rasanya sedih, tamu yang agung dan penuh berkah itu, yang telah dengan sepenuh hati memenuhi hajat-hajat keperluan mendasar kita, kini akan meninggalkan kita. Padahal, sesuai tradisi lama, justeru tamulah yang seharusnya mendapatkan pelayanan. Tamulah yang seharusnya dilayani sesempurna mungkin, sehingga kita bisa dicap sebagai seorang Muslim yang “mukrimun lidhaefih” (memuliakan tamunya). Sayang, justeru perbekalan yang di bawa oleh tamu untuk kita jauh lebih besar ketimbang usaha kita sendiri untuk memenuhi tuntutan-tuntutannya. Maka di penghujung Ramadhan ini, seharusnya semua kita gembira, namun juga seharusnya lebih banyak merenungi diri akan kegagalan-kegagalan kita dalam memenuhi hak-hak tamu kita kita. Sehingga sangat wajar kalau Rasulullah SAW mengajak para sahabatnya untuk berdoa sepanjang tahun ke depan, agar puasa mereka tahun ini kiranya diterima oleh Allah Yang Maha Rahman. Adakah perasaan “khawatir” ini ada dalam diri kita? Atau justeru dengan berlalunya Ramadhan, seolah kita telah mendapatkan “garansi” kalau kita pasti akan masuk ke dalam syurga firdaus. Akibatnya, seolah puasa selama sebulan itu telah menjadi “penutup” dari seluruh ibadah dan segala dosa-dosa mendatang. Maka sering kita lihat, di saat Ramadhan masjid-masjid masih melimpah ruah jama’ahnya, shalat sunnah malam terjaga, demikian pula bacaan al Qur’an, dst. Tapi setelah Ramadhan terlewatkan, seolah semua selesai. Maka jangankan yang sunnah-sunnah, yang wajib sekalipun terkadang cenderung terabaikan. Untuk itu, sikap yang betul adalah menempatkan diri di antara “al khauf war Rajaa” (khawatir dan harapan). Kita khawatir akan kekukarangan-kekukarangan yang ada, namun kiranya kita patut juga bergembira, walau dengan berbagai ketidak sempurnaan, kiranya kita juga telah selesai menunaikannya sesuai daya dan kemampuan yang ada. Untuk itulah, pada akhirnya kita memang patut berhari raya, untuk menandai rasa syukur dan kegembiraan kita dengan sebanyak-banyaknya membesarkan Asma Ilahi. Allah berfirman: “Dan sempurnakan bilangan puasa, dan hendaklah kamu membesarkan Asma Allah atas petunjuk yang diberikannya kepadamu, dan semoga kamu dapat bersyukur kepadaNya” (Al Baqarah: 185). Ada banyak tentunya yang harus kita syukuri, termasuk puasa, tarawih, sadaqah, bacaan Qur’an, dan berbagai ibadah lainnya, tentu dengan segala kesadaran akan kekurangan-kekurangannya. Semua kesyukuran ini seharusnya terkait dengan nilai ibadah yang telah dilakukan. Sayang, terkadang kegembiraan kita terkait oleh kegerlapan duniawi yang dipersiapkan sedemikian rupa untuk menyambut Idul Fitri. Sehingga kegembiaraan kita tidak menggambarkan rasa syukur “ta’abbudi”, melainkan kegembiraan duniawi yang lebih didominasi oleh kemubadziran atau sikap berlebih-lebihan. Silaturrahim atau saling mengunjungi terkadang disulap menjadi ajang pamer makanan, pakaian atau peralatan rumah tangga lainnya. Akibatnya, dengan berlalunya Ramadhan, berlalu pula pesan-pesan moral puasa, untuk hidup sederhana serta semakin sensitive dengan penderitaan sesama di sekitar kita. Merayakan Laitul QadarDari sekian banyak hal yang patut kita rayakan di akhir Ramadhan ini, saya yakin salah satu yang terpenting adalah merayakan sebuah malam yang telah dilalui. Sebuah malam yang ternyata lebih bermutu ketimbang seribu bulan di masa-masa mendatang dalam hidup kita. Malam (Laelatul) Qadar adalah sebuah malam yang dinanti-nantikan oleh setiap insan Muslim, dan disambut kedatangannya dengan berbagai bentuk pengabdian, baik berupa qayamullael (shalat tahajjud), qiraah al qur’an (bacaan al qur’an) atau bermacam bentuk ibadah lainnya. Bahkan tidak jarang sebuah masjid melakukan berbagai kegiatan ibadah semalam suntuk.
Pada ayat pertama Allah menegaskan bahwa di malam yang disebut “Laelatul Qadr” itulah diturunkan Al Qur’an. Lalu untuk menarik perhatian pembaca surah ini, Allah mengajukan sebuah pertanyaan: “Dan tahukah engkau apa yang disebut Malam al Qadr?”, yang kemudian dijawabnya sendiri: “Malam al Qadr itu lebih baik dari seribu bulan”. Kalau seandainya ada yang kemudian mempertanyakan, kenapa “Laelatul Qadr” itu lebih baik dari seribu bulan? Apa dasar dan alasannya? Apakah ada kwalitas yang dimiliki secara khusus tanpa malam yang lain? Apakah “khaeriyah/imtiyaz” (kebaikan/keistimewaan) malam itu karena malam (sebuah potongan masa) sendiri? Apakah karena Muslimnya yang sedang beribadah malam itu? Atau sebenarnya karena apa? Beragam respon yang diberikan oleh kaum Muslimin. Sebagian besar, diantaranya, menilai bahwa “keistimewaan” malam itu adalah karena malamnya tersebut. Sehingga malam itu dijadikan (seolah) malam yang disucikan secara khusus, yang memiliki tanda-tanda lahir misalnya malamnya sejuk dengan terpahan angin lembut, langit di malam itu hampir tidak berawan dengan bulan yang terang benderang. Demikian juga di pagi harinya, tiba-tiba saja mentari terang benderang hampir tak terhalangi oleh sedikit awan pun. Sebagian lain menilai, keistimewaan malam itu dikarenakan bahwa beribadah pada malamnya akan menghasilkan pahala senilai lebih dari beribadah selama seribu bulan pada malam-malam yang lain. Untuk itu, sebagian umat yang menafsirkan demikian, beribadah dengan sebanyak-banyaknya dan sekaligus cenderung mengkalkulasi secara matematis “nilai” pahala yang dijanjikan oleh Allah SWT. Dengan kata lain, sebagian umat ini cenderung bersikap materialistis dalam menyikapi malam al Qadr ini. Akibatnya, dengan merasa telah mendapatkan “Laelatul Qadr”, cukuplah kiranya ibadah perbekalan untuk menuju akhirah. Toh, kalau dihitung-hitung ke depan tidak mungkin lagi hidup seribu bulan untuk menyamai satu malam tersebut. Maka selepas Ramadhan, rasa ringan untuk meninggalkan kewajiban bukanlah masalah, karena semua itu telah tertutupi oleh ibadah semalam (laelatul Qadr) itu. Saya melihatnya, bukanlah masalah jika memang cenderung dinilai demikian. Bukankah disunnahkannya “I’tikaf” di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan juga memang terkait dengan upaya mengoptimalkan ibadah pada malam-malam yang dianggap “kemungkinan besar” jatuhnya “Malam Besar” itu. Seorang Muslim termotivasi untuk melakukan ibadah sebanyak-banyaknya merupakan hidayah tersendiri. Sebab memang aneh, jika di awal-awal ramadhan masjid pada ramai tapi di penghujung Ramadhan justeru yang datang hanya segelintir. Padahal, sebaik-baik nilai amalan itu adalah “khawatimuha” (penutupnya). Beribadah secara maksimal di akhir-akhir Ramadan bisa jadi merupakan indikasi “Husnul Khaatimah” Ramadhan itu sendiri bagi seseorang. Qadr (Kekuatan) Malam itu pada Kekuatan Al Qur’anHanya saja, saya pribadi cukup menyayangkan kalau kehebatan malam itu hanya terbatas pada jumlah dan bentuk ibadah-ibadah yang kita persembahkan. Apalagi kalau penilaian kita dibatasi oleh malam, dalam arti sepotong masa dari bulan ini sendiri. Saya sayangkan demikian karena sesungguhnya Allah Maha Adil, tidak pernah membedakan antara waktu-waktu yang ada, semuanya tergantung pemanfaatannya saja. Untuk itu, maksimalisasi “Laelatul Qadr”, menurut saya, justeru tidak terletak pada jumlah dan bentuk ibadah-ibadah yang kita lakukan. Maksimalisasi “Kekuatan Malam” itu justeru terletak pada ayat pertama dari Surah Al Qadr: “Sungguh Kami telah turunkan pada malam Al Qadr”. Sebenarnya, kalau dikembalikan pada urutan-urutan pertanyaan tadi: “Dan tahukah kamu apa Laelatul Qadr itu?- Laelatul Qadr lebih baik dari seribu bulan-”. Lalu pertanyaan yang timbul kemudian dari kita: “kenapa kiranya malam itu lebih baik dari seribu bulan?”. Jawaban yang tepat adalah karena ” Sungguh Kami menurunkan al Qur’an pada Malam Al Qadr itu”. Artinya, keistimewaan malam itu sangat erat terkait dengan diturunkannya sebuah Kitab yang sangat istimewa (Al Qur’an). Itulah sebabnya, Allah menyebutkan: “Sungguh Kami turunkan (al Qur’an) pada malam yang diberkahi” (Ad-Dukhaan: 3). Sekali lagi, Allah mengaitkan “keberkahan” malam itu dengan diturunkannya Kitab yang membawa berkah (al Qur’an). Dengan demikian, kehebatan/kekuatan/keunikan/keistimewaan/kelebihan Laelatul Qadr tidak lain karena terkait dengan kehebatan/kekuatan/keunikan/keistimewaan/kelebihan yang ada pada “al munazzal” (yang diturunkan berupa al Qur’an) pada malam itu. Sehingga saya sendiri sangat terkejut menyaksikan beribu-ribu umat menyatakan menang dengan “Laelatul Qadr”, hanya karena shalat-shalat sunnah yang dilakukan, terlebih lagi jika dirasakan sebagai penutup dari kekurangan-kekuarangan di masa depan, sementara “hidayah qur’ani” diabaikan dalam proses hidup selanjutnya. Saya justeru menilai bahwa ibadah seseorang pada malam itu, tapi dalam proses selanjutnya “substansi” (hidaya/al Qur’an) diabaikan justeru seperti apa yang dikatakan Rasulullah: “Refleksi akal semalam seorang alim itu lebih baik ibadah yang dilakukan seorang ‘aabid dalam seribu malam”. Dengan demikian, sesungguhnya kalaulah kita ingin untuk meraih malam yang jauh lebih baik dari seribu malam itu, sebaiknya selain diperbanyak amalan-amalan ibadah, juga sangat penting untuk dipergunakan untuk “mentadabburi” ayat-ayat Ilahi yang datang pada malam itu dan menjadikan malam itu menjadi istimewa. Satu malam yang dipergunakan untuk merefleksikan “hidayah” Allah, dihayati, dimengerti dengan komitmen diamalkan, tentu jauh lebih baik dari sekedar shalat-shalat sunnah yang terkadang bertujuan menghitung-hitung pahala semata. Kehidupan semalam dengan naungan “petunjuk” sebagai bekal dalam menggapai sisa-sisa kehidupan ke depan, jauh lebih baik dari kehidupan seribu bulan lagi atau sekitar 84 tahun, namun jauh dari hidayah-Nya Allah SWT. Karena nilai hidup manusia bukan pendek dan panjangnya, tapi ditentukan oleh nilai “kesadaran kebesaran Ilahi (taqwa) yang dimiliki seseorang. Sisi Qadr (kekuatan) Al Qur’anAdalah memang sangat wajar kalau Al Qur’an dinilai sebagai sebuah kekuatan besar. Al Qur’an sendiri dengan tegas mengatakan: “Kalau seandainya Al Qur’an ini Kami turunkan di atas sebuah gunung maka gunung itu akan guncang karena takut kepada Allah” (Al Hasyar: 21). Al Qur’an adalah kalam Ilahi yang “mu’jiz”, yang memiliki kekuatan luar biasa yang mengalahkan segala tandingan dari sudut dan aspek mana saja. Saya sangat yakin, hanya akal-akal kerdil saja yang masih meragukan akan kehebatan Al Qur’an, dan cenderung untuk meletakkan Al Qur’an pada posisi yang sejajar dengan akalnya yang terbatas. Barangkali pada kesempatan ini, saya tidak sempat membahas semua sisi kekuatan Al Qur’an. Saya rasanya malu menjadi anak kampungan yang diajak jalan-jalan ke pinggir pantai, dan serta merta menyatakan bahwa pantai itu tak bernilai, kotor dan hanya penuh dengan kotoran. Sebab saya hanya tukang cangkul kebun yang hanya bisa melihat pinggiran laut yang maha luas itu. Kalaulah saya menjadi ahli laut, bisa menyelam dan melihat “values” yang ada di kedalaman laut itu, tentu saya tidak kampungan mengambil kesimpulan seperti tadi. Itulah Al Qur’an, sebuah lautan yang seandainya seluruh laut dijadikan tinta untuk menggalinya, niscaya air laut ini akan habis walau didatangkan sebanyak itu lagi, tak akan selesai digali. Kedalaman dan keluasan ilmu yang terkandung dalam Al Qur’an menjadikan kita semua hanya bisa terkagum-kagum, justeru tidak semakin menyombongkan diri menngingkari kehebatannya. Lebih celaka, karena pengingkaran kita ditambah lagi dengan keangkuhan seolah “pemahaman” kita jauh lebih hebat dari kandungan Al Qur’an itu sendiri. Kesombongan insan tidak lagi sebatas menantang “penafsiran” ulama lain, tapi telah berada pada batas menantang “kehebatan” Kalam Ilahi itu sendiri. Suatu kesombongan yang sangat luar biasa, bahkan suatu kenaifan yang sebenarnya sangat menjijikkan, karena penantangan seperti itu hanya semakin memperlihatkan “kejahilan” yang hebat dari seseorang. “Walan taf’aluu” (dan kamu tak akan bisa melakukan penantangan itu) tantang Al Qur’an. Itulah sebabnya, semakin direndahkan Al Kitab ini, justeru semakin menampakkan kemuliaaannya. Allah sendiri meyakinkan: “Wa Qul Jaa al Haq wa zahaqa al baathilu, innal baathila kaana zahuhuqa” (dan katakan: sungguh kebenaran telah tiba dan kebatilan telah lenyap, dan sungguh (jika bertabrakan) kebatilan itulah yang akan lenyap). Sesungguhnya inilah yang menjadikan “ahli bathil” terkadang panik dalam menyampaikan ide-idenya, karena dari hari ke hari ide-ide mereka semakin tidak populer, walau itu didukung oleh berbagai fasilitas yang lebih hebat dan canggih. Kekuatan yang Membawa PerubahanKalau bisa saya istilahkan, al Qur’an sebenarnya adalah “Quwwah Taghyyiriyah” atau kekuatan yang membawa perubahan (changing power) dalam kehidupan manusia. Barangkali istilah klasik yang kita kenal, kerubahan dari alam yang gelap gulita ke alam yang terang benderang, perubahan dari pengabdian kepada “thaguut” kepada pengabdian semata kepada “Allah”, Pencipta alam semesta. Sebuah kekuatan yang membawa perubahan dari kehidupan yang “jahiliyah”, kebodohan, kesemprawutan, keterbelakangan, kemiskinan dan penderitaan, kepada kehidupan yang “illuminated”, intelektualitas, kedisiplinan, kemajuan, kemakmuran dan kebahagiaan. Mungkin pertanyaan klasik akan muncul. Kalaulah al Qur’an itu adalah sebuah kekuatan perubahan, tapi kenapa kehidupan umat ini jauh dari seperti yang diharapkan? Sebenarnya terjawab dengan kenyataan hidup umat itu sendiri, betapa umat ini jauh dari al Qur’an. Kenyataan hidup umat yang menyedihkan saat ini bukan dikarenakan ajaran al Qur’an, tapi sebaliknya dikarenakan umat ini telah jauh dari ajaran Al Qur’an yang sebenarnya. Umat Islam dalam sejarah, tidak pernah dan tak akan pernah menjadi jaya dengan mejauhkan diri dari Kitab Sucinya. Yang terjadi adalah sebaliknya, bahwa keterpurukan yang dialami oleh umat Islam tidak lain disebabkan semakin menjauhnya mereka dari “petunjuk” Allah SWT. Allah berfirman: “Dan jika datang kepadamu petunjuk dariKu, maka barangsiapa yang mengikut petunjukKu, maka atas mereka tiada takut dan sedih. Tapi mereka yang mandustakan ayat-ayatKu, merekalah ahli “Neraka”, mereka kekal di dalamnya (Al Baqarah: 38-39) Neraka (penderitaan) yang dialami oleh umat manusia saat ini, termasuk neraka-neraka duniawi (adzaab al adnaa) adalah akibat dari kelalaian mengikut kepada petunjuk Allah SWT. Sebaliknya, mereka mengejar kejayaan dengan bertaqlid buta kepada “petunjuk-petunjuk” lain (subul), ibarat mengejar “fatamorgana”, sebuah ilusi dalam kehidupan yang tiada berkesudahan. Ada tiga perubahan dasar yang dibawa oleh Al Qur’an: 1. Perubahan Hati dan Jiwa (Taghyiir al Quluub/ Nafsiyah) Dalam Al Qur’an, seringkali Allah sebelum menyebutkan kemuliaan ayat-ayat KalamNya, disebutkan perumpamaan berupa “turunnya air hujan dari langit ke bumi dan tiba-tiba menyuburkan tanah, dan dari tanah tumbuh tumbuh-tumbuhan dan menghasilkan buah-buahan sebagai rezki bagi manusia” (lihat Al Baqarah: 22 misalnya). Setelah itu, Allah menantang siapa saja yang merasa bisa menciptakan petunjuk yang sehebat Al Qur’an untuk mendatangkan satu pasal saja (surah) yang seperti salah satu surahnya. (Al Baqarah: 23). Pertanyaan yang kemudian timbul, kenapa Allah menyambung kedua hal itu (hujan dan bumi di satu sisi dan ayat-ayat Al Qur’an dan perilaku manusia di sisi lain)? Jawabannya adalah Jika air hujan yang diturunkan ke bumi ini merupakan penyubur tanah dan dari tanah subur yang subur inilah timbul tumbuh-tumbuhan sehat yang membuahkan buah-buah yang segar. Buah-buah segar inilah yang diperlukan oleh jasad manusia untuk tetap sehat lestari memakmurkan bumi ini. Maka wahyu al Qur’an adalah air hujan ruh, yang diturunkan untuk menyuburkan jiwa manusia. Dari jiwa yang subur ini, tumbuh pepohonan yang kokoh kuat, akar-akarnya menghunjam ke dalam tanah, dahangnya mencakar langit dan menghasilkan buah-buah setiap saat dengan izin Tuhannya (S. Ibrahim: 24). Kenyataan ini yang kemudian dikuatkan oleh Rasulullah SAW: “Sungguh pada diri setiap insan itu ada segumpal darah, yang jika baik akan baik seluruh amalannya. Namun jika rusak maka rusaklah seluruh amalannya. Itulah dia hati” (hadits). Kenyataan inilah yang menjadikan al Qur’an menjadi sebuah kekuatan hebat yang secara khusus dirancang oleh “Sahibul Kalaam” (Allah SWT) untuk merombak jiwa-jiwa yang yang melenceng. Al Qur’an adalah obat apa yang ada di dada, penyejuk jiwa, penentram kalbu. Generasi pertama dari umat ini, adalah hasil bentukan qur’ani. Hati-hati mereka yang tadinya keras (qaashiyah), menjadi lembut dengan gemblengan al Qur’an. Hati yang tadinya liar menjadi jinak terhadap “masalih insaniyah” (kemaslahatan manusia). Inilah yang menjadikan “penaklukan” kota Makkah (Fath Makkah) tidak menjatuhkan korban kecuali tiga orang dari kalangan Qurays. Dalam sejarah kehidupan manusia, penaklukan mana yang tidak menjatuhkan ratusan, ribuan bahkan jutaan manusia? Sayang sekali, bahwa hati-hati yang menerima al Qur’an jauh lebih keras dari sebuah bebatuan yang dijatuhi air hujan. Allah memberikan perbandingan antara batu-batu yang dijatuhi air hujan dan hati-hati yang keras yang tak mau tunduk pada firman Allah:
Ayat di atas menjelaskan bahwa betapa batu-batu yang keras masih dapat diharapkan memberikan manfaat berupa dari selah-selahnya terpancar sungai-sungai atau batu itu sendiri yang terpecah dan tiba-tiba keluar air darinya. Namun hati yang keras, tiada harapan kecuali bahwa hati seperti ini hanya akan bisa bermanfaat di hari Akhirat nanti karena dijadikan bagian dari kayu bakar api Neraka (al Baqarah: 24). Dari kenyataan inilah, al Qur’an seringkali menantang hati-hati yang keras ini. “Tidakkah sudah masanya bagi orang-orang yang beriman untuk hatinya takut terhadap Allah dan terhadap apa yang diturunkan dari kebenaran?” (Al Hadid: 16). “Apakah mereka tidak mentadabburi al Qur’an, ataukah pada hati-hati mereka terdapat penghalang?” (An Nisaa: 82). Dari kenyataan-kenyataan di atas jelas, bahwa jauhnya buah-buah keimanan berupa amal-amal kebaikan dalam kehidupan kaum Muslimin tak lain disebabkan oleh ketumpulan jiwa. Jiwa tumpul nan gersang, hanya melahirkan buah-buah pahit yang meracuni kehidupan. Untuk itu, perilaku moral, karakter dan tindak tanduk umat ini yang semakin jauh dari nilai-nilai kebenaran sesungguhnya adalah indikator langsung dari kebekuan jiwa yang tidak tersinari oleh “nur hidayah” Ilahi. Jika saja korupsi merajalela di kalangan pemimpin Muslim, suap menyuap menjadi sesuatu yang lumrah, tipu menipu, memakan riba, pelacuran merebab di mana disusul oleh aborsi yang mengumum, pamakaian narkotika dan obat-obat terlarang lainnya,..semua ini merupakan hasil dari hati-hati yang rusak. Dan pada titik ini pulah al Qur’an sebagai sebuah kekuatan datang untuk merubahnya. Merubah hati-hati yang bergelimang dengan kegelapan menuju kepada hati-hati yang dipenuhi cahaya Ilahi. 2. Perubahan Cara Pandang (Taghyiir ‘aqliyah tsaqafiyah) Kekeliruan dalam melihat kehidupan ini menjadikan banyak orang yang keliru dalam mengarungi kehidupan itu sendiri. Berbagai penderitaan yang menimpa umat manusia, disadarinya atau tidak, adalah akibat langsung dari kesalahan dalam menjalani kehidupan yang merupakan buah langsung dari persepsi yang salah terhadap kehidupan itu sendiri. Ada tiga cara pandang manusia dalam melihat kehidupan ini:
Cara pandang pertama adalah cara pandang yang menumpukan segala sesuatu pada materi duniawi. Kesuksesan, kemajuan, ketentraman, dan bahkan angan-angan kebahagiaan, semuanya didasarkan pada pijakan materi. Seseorang dianggap sukses jika telah mendapatkan keberuntungan materia duniawi yang tak terbatas, tanpa melihat lagi apakah materi itu diperoleh dengan cara yang diridhai oleh Allah SWT atau tidak. Seorang ayah atau ibu merasa berhasil mendidik anaknya, jika anak tersebut berhasil meraih gelar pendidikan tertinggi dari sebuah universitas yang terkenal, walau sang anak tak lagi sadar atau faham akan agama yang dianutnya. Dalam sebuah rumah tangga, yang diperhatikan adalah perabot rumah yang mahal, mewah namun jauh dari ruh hidayah yang mendatangkan rahmat Allah SWT. Demikian seterusnya, benda atau materi duniawi menjadi ukuran dalam segala hal. Ada tiga indikasi utama dari seseorang yang memiliki cara pandang materialistik atau duniawi ini:
Allah menegaskan: “Mereka tahu hal-hal lahiriyah dari kehidupan dunia ini. Namun mereka lalai dari kehidupan akhirat” (Ar Rum: 3). Allah juga menegaskan: “Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia menyangka kalau hartanya itu akan mengekalkannya” (Al Lumazah). Bahkan Allah secara gamblang mengingatkan, betapa banyak manusia yang dilalaikan oleh perlombaan mencari harta yang lebih banyak, hingga masa di mana mereka sadar di alam kuburnya masing-masing (At Takaatsur). Fakta inilah yang menjadikan dunia itu seringkali dinamai “Laahii” atau sesuatu yang mejadikan orang lupa. Dalam S. Al Jumu’ah Allah menegaskan hal ini.
Kedzaliman atau ketidak adilan yang terjadi dalam hidup manusia, diakibatkan oleh persepsi materialistik yang dimilikinya. Kedzaliman tertinggi tentunya adalah kedzaliman yang dilakukan terhadap hak-hak Pencipta kita sendiri. Kalaulah sesat kita berfikir, merefleksikan kebesaran dan keagungan ni’mat yang Allah karuniakan, lalu kita bandingkan apa-apa yang telah kita persembahkan untuk mendapatkan ridhaNya, alangkah naifnya kita. Sehingga, wajar saja kalau untuk masuk syurgaNya Allah di Hari Akhir nanti, hanya bisa dengan karunia rahmat Allah dan bukan karena hasil kerja-kerja yang kita lakukan. Sebab logikanya, kalaupun kita telah berhasil melakukan secuil kebajikan, bukankah itu juga karena “kerunia” hidayah dan daya yang Allah berikan? Lalu di mana letak logikanya jika kita harus merasa “bisa” melakukannya sendiri? Kezaliman pada diri sendiri adalah akibat cara pandang materialistik semata. Bahwa manusia menjadi manusia karena dua sisi hidupnya yang tidak terpisahkan; materi dan ruh. Tapi karena keinginan untuk memenuhi kebutuhan materi (hajah jasadiyah), kita mengabaikan hajat mendasar yang lain berupa hajat ruhiyah (spiritual need). Akibatnya, manusia hidup gersang, kering bathin, walau di tengah-tengah tumpukan materi. Manusia mati secara spirit, walau sehat sehat secara jasad. Maka terjadilah kuburan-kuburan yang berjalan. Mungkin dunia saat ini adalah dunia yang paling merana karena kezaliman manusia pada dirinya sendiri. Kezaliman pada keluarga, khususnya anak-anak juga karena akibat cara pandang materialistik ini. Betapa banyak orang tua, atas nama masa depan anak, ternyata hakikatnya membawa bencana besar bagi sang anak itu sendiri. Pendidikan anak dalam dunianya memang sukses, mencapai tingkat Ph.D, menjadi seorang lawyer yang terkenal, ahli ekonomi, politisi, dst. Tapi sadarkah seorang tua, jika semua itu telah dicapai lalu sang anak tidak sama sekali sadar akan agamanya lagi? Apalah makna Ph.d atau sederetan gelar yang lain, jika ternyata pada akhirnya sang anak hanya akan masuk ke dalam neraka? Mereka ke neraka karena siapa? Kalau ternyata karena kelalaian orang tua, walau atas nama masa depan anak, maka orang tua seperti ini adalah orang tua yang zalim, yang di Hari Akhirat nanti akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT. Demikian pula kezaliman-kezaliman yang terjadi di antara sesama makhluk Allah SWT. Kezaliman telah merajalela dalam kehidupan manusia, akibat cara pandang yang materilisitk ini. Zalim pada keluarga dalam hubungan silaturrahim, pada guru (ahli ilmu), pada tetangga, pada sesama Muslim, sesama manusia, dan bahkan kepada makhluk-makhluk yang lain. Kezaliman kepada alam sekitar, termasuk lingkungan hidup adalah akibat cara pandang materialisitk, termasuk penebangan hutan secara liar misalnya. Akibatnya, kejahilan ini kembali kepada umat manusia itu sendiri (lihat Ar Rum: 41).
Logikanya, dunia ini tak akan pernah mendatangkan kebahagian final. Manusia yang memburu kepuasan dengan dunai semata, justeru akan semakin tidak puas. Barangkali gambaran sederhana yang diberikan adalah “ibarat seorang haus yang meminum air laut, semakin diminum akan semakin mendatangkan rasa haus”. Untuk itulah, justeru manusia yang memiliki cara pandang duniawi ini, semakin memburunya justeru semakin tidak puas, dan pada akhirnya tidak akan pernah merasakan keni’matan Allah SWT. Akibatnya, mereka justeru cenderung mengingkari kebesaran Allah atas mereka. Allah menegaskan hal ini:
Akibat ketidak mampuan mensyukuri, terjadilah penyelewengan-penyelewengan pamakaian ni’mat Allah. Sebab mensyukuri ni’mat berarti, salah satu indikasi terpenting, adalah memakai harta itu di jalan yang diridhai oleh Pemberinya (al Mu’thii). Sebaliknya, jika ternyata mereka yang dianugerahi harta memakainya untuk kepentingan yang justeru mendatangkan “murka” Allah, menandakan bahwa yang bersagkutan tidak sama sekali bisa mampu bersyukur atas karunia ni’mat yang didapatkannya. Itulah tiga akibat besar yang ditimbulkan oleh cara pandang manusia yang materialistik terhadap kehidupan dunia ini. Al Qr’an datang sebagai kekuatan pengrubah, yang harus mampu merubah cara pandang mereka yang mengimaninya. Untuk itu, keimanan kepada Al Qur’an tidak mungkin bisa bersatu dengan cara pandang materialisitk duniawi. Sebab cara pandang seperti ini adalah sesuatu yang diantipati oleh kandungannya. Cara pandang kedua adalah yang menilai bahwa kehidupan dunia ini hanyalah “ilusi” (bukan realita), dan bahkan dinilai menjadi penghalang bagi seseorang dan Tuhannya. Untuk itu, untuk memperoleh ridha Allah, seseorang harus menghindarkan diri dari kehidupan ini dan mengkonsentrasikan diri “semata” dalam kehidupan spiritualnya. Bagi seorang Muslim yang berfikiran seperti ini, akan mengurung diri sepanjang siang dan malam dirinya dalam rumah-rumah ibadah, melakukan dzikir dan tasbih, serta bermunajat semoga diberikan kebahagiaan dunia akhirat. Cara pandang seperti ini juga adalah cara pandang yang keliru dari sudut pandang Islam. Sebab dalam agama ini tidak ada “rahbanisme” (celibacy). Rasulullah bahkan memarahi tiga sahabat yang seolah tidak ingin lagi melibatkan diri dalam kehidupan dunia ini. Umar memarahi seorang pemuda yang berdoa sepanjang hari dalam masjid meminta rezki namun tidak pergi ke pasar untuk mencari rezki yang telah dimintanya itu. Bahkan pada saat perang Tabuk yang terjadi di musim panas, seorang sahabat tetap melakukan ibadah puasa, Rasulullah menegurnya dengan mengatakan “Laa khaera di haadza” (tiada kebaikan dengan cara seperti ini). Dengan fakta-fakta yang banyak dalam Al Qur’an, semuanya menjelaskan secara gamblang bahwa kehidupan dunia adalah bagian integral dari ajaran Islam, dan mengingkarinya adalah juga mengingkari sebagain dari ajaran agama ini. Bahkan jelas dalam agama ini, menjalani kehidupan dunia ini adalah juga merupakan ibadah yang tidak kurang nilainya dari ibadah-ibadah (ritual) sekalipun. Cara pandang yang ketiga adalah kombinasi kedua cara pandang di atas dan adalah merupakan cita-cita agung al Qur’an. Itulah cara pandang Islami, yang mendatangkan keridhaan Allah SWT. Dalam banyak ayat al Qur’an, Allah mengingatkan: “Carilah kehidupan akhiratmu, tapi jangan lupa pula kehidupan duniamu”. Bahkan Allah menjelaskan: “Jika shalat Jum’at dikumandangkan, maka berusaha keraslah untuk datang kepada dzkrullah (shalat) dan tinggalkan seluruh hal yang menyibukkan (business). Hal itu lebih baik bagimu jika kamu tahu”. Namun Allah meneruskan perintah ini dengan firmanNya: “Dan jika shalat telah ditunaikan, maka bertebaranlah di atas bumi dan carilah rezki Allah dan ingat Allah sebanyaknya, semoga kamu beruntung” (Al Jumu’ah). Cara pandang Islami adalah yang menilai kedua perintah di atas sama-sama memiliki status hukum yang sama. Yaitu kewajiban yang harus ditunaikan. Seorang Muslim wajib memenuhi ajakan shalat, namun pada saat shalat telah ditunaikan, dia merasakan kewajiban yang lain berupa bertebaran di atas permukaan bumi mencari rezki Allah SWT. Muslim tidak dikehendaki diskriminatif terhadap kedua perintah ini. Hendaknya tidak dilihat bahwa perintah menunaikan shalat adalah kewajiban yang nilainya 100%, sementara mencari rezki hanya 50%. Tidak ada kewajiban 100% sementara yang lain 50% atau kurang. Semua kwajiban adalah 100%. Untuk itu, membangun dunia ini, dalam rangka akhirah kita adalah kewajiban yang juga nilainya 100%. Al Qur’an sebagai sebuah kekuatan “mughayyir” (changing power) harus merubah cara pandang kita terhadap “track” yang benar ini. Umat kita telah lama terbelakang, hampir dalam segala aspek kehidupan. Dan saya kira masanya kita memburu keterbelakangan ini, tapi harus menjadi umat yang materislistik. Kita maju dengan cara pandang dan orientsi hidup kita sendiri. Kita tidak perlu mengharuskan diri bercermin kepada “Timur atau Barat” dalam upaya mendapatkan kemajuan kita. Karena sesungguhnya kemajuan umat ini terletak dalam ajarannya sendiri. Dan inilah Al Qur’an, kekuatan yang datang untuk membawa umat ini kepada kemajuan yang hakiki. 3. Perubahan Peradaban (Taghyiir Hadhary) Ajaran Al Qur’an adalah kehidupan itu sendiri. Kehidupan tanpa dinaungi oleh sinar wahyu Ilahi adalah kehidupan hampa tanpa makna. Untuk itu Allah memanggil umat ini untuk meraih kembali kehidupannnya lewat ajaran al Qur’an:
Para ahli tafsir mengatakan bahwa kehidupan yang dimaksud di sini adalah Al Qur’an atau Al Islam itu sendiri. Artinya, kehidupan yang membawa berkah, bermakna, maju, tidak semrawut, berdisiplin, bercahaya, dan bahagia itu adalah kehidupan yang mengikut kepada petunjuk Al Qur’an (al Islam). Maka di saat kita berbicara tentang peradaban, kita sebenarnya berbicara tentang kehidupan manusia itu sendiri. Peradaban adalah kehidupan manusia secara menyeluruh, dalam segala aspeknya. Dan Al Qur’an pun datang untuk memberikan petunjuknya dalam upaya membangun peradaban yang bermutu ini. Dalam menyikapi peradaban ini, umat Islam terkadang hanya bisa bangga dengan masa lalunya. Kita bangga dengan kajayaan Islam hingga ke Eropa ketika itu, dan akhirnya kita hanya mengakui “turats” yang sekarang jusetru dimiliki orang lain. Sementara yang lain sibuk mendialogkan apa yang dinamakan “dialog antar peradaban”, namun peradaban tidak akan tercipta dalam sebuah ruangan ber AC. Manusia muslim menjadi manusia yang beradab, karena dalam kehidupan individunya mempraktekkan moralitas. Keimanan kepada Allah, tidak melanggar hak-hak sesama, menjaga keharmonisan rumah tangga, dst. Tapi sayang, peradaban kita masih terbatas kepada peradaban individuil, kalaupun ada, dan belum menyentuh kehidupan manusia yang lebih luas. Akibatnya, terkadang ketika peradaban kita rasakan dipaksakan dalam kehidupan kita, seperti dunai senia (film, dll.) kita hanya bisa reaktif, tapi belum mampu memberikan pengganti atau alternatif. Inilah barangkali yang harus dirubah oleh kekuatan pengrubah (changing power), Al Qur’an. Al Qur’an sebagai kekuatan harus diterima sebagai petunjuk sempurna, yang mampu melakukan perumbakan total kehidupan manusia dalam segala aspeknya. Al Qur’an memberikan alternatif sisitm hidup yang syamil-kamil-mutakamil, yang diterapkan secara logis dan praktis, serta menempuh jalur menusiawi yang diterima secara konsensus. Artinya, kalaulah ajaran Islam ini diterapkan secara benar, maka ia akan dilihat oleh umat manusia sebagai ajaran penyelamat dari penderitaan panjang yang telah diderita oleh manusia sejak berabad-abad. Sayang, sekali lagi, umat ini sendiri yang ragu terhadap ajarannya, dan kalaupun meyakininya mereka mempraktekkannya secara keliru dan terkadang dikotori dengan kecenderung-kecenderung hawa nafsunya sendiri. Maka terjadilah perjuangan atas nama Islam, tapi sesungguhnya diperuntukan untuk kepentingan-kepentingan sesaat. Kedamaian Hingga FajarMenyambut Laelatul Qadr dengan pengertian seperti inilah yang kemudian membawa kehiduoan “rabbany”, yaitu suatu kehidupan yang senantiasa menjaga nilai-nilai kesuciannya bersama Ilahi. Kehidupan yang di dalamnya tidak merajalela kemungkaran, dan bahkan terkadang menjadi bagian dari kehidupan yang dianggap normal (kasus lokalisasi pelacuran dan perjudian). Penggambaran kehidupan seperti ini yang disebutkan dalam ayat: “Turunlah para malaikat pada malam itu dan juga Ruh (jiblril) dengan izin Tuhanya dengan segala urusan”. Suatu kehidupan yang jauh dari cahaya Ilahi tidak mungkin akan diasosiasikan dengan malaikat karena malaikat adalah simbiol kesucian, makhluk yang tidak pernah bersentuhan dengan dosa-dosa. Gambaran ini diperkuat dengan ayat Allah: “Seandainya penduduk negeri itu beriman dan bertakwa, sungguh Kami akan bukakan bagi mereka pintu-pintu berkah dari langit dan bumi, tapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami adzab mereka atas upaya mereka sendiri” (al A’raaf: 96). Kehidupan yang penuh berkah inilah, yang di dalamnya dipenuhi ketaatan, ketakwaan, kesadaran ilahiyah, kehidupan Rabbany, akan membawa kedamaian sejati. “Salaam” (kedamaian, ketentraman, kesejukan) hidup akan dirasakan oleh semua pihak “hingga terbitnya fajar” di pagi hari. Fajar kematian, menemui ajal dengan tenang pada tataran individu, dan mengakhiri peradaban manusia dengan datangnya Kiamat pada tataran kehidupan sosial. Dan ketenangan seseorang dalam menghadapi maut, serta ketentraman peradaban hingga datangnya Kiamat hanya bisa diraih dengan kesuksesan kita meraih “Buah” Laelatul Qadr; Al Qur’an al Kariim. Allahumma ar hamnaa bil Quraan, waj’alhu lanaa imaaman wa nuuran wa hudaan warahma. Allkahumma ‘allimnaa minhu maa jahilna wadzakkirnaa minhu maa nasiina. War zuqnaa tilaawatahu ‘anaal lael wa athraafan nahaar. Waj’alhu lanaa hujjatan ya Rabbal’aalamiin. Amin ya Rabbal ‘aalamiin!! *(catatan-catatan ceramah Laelatul Qadr dan nuzul al Qur’an). |

















ass.wr.wb
Dengan hormat
saya ingin menanyaka kepada bapak Hilmi, tentang penyerahan sk cpns di abdya!
saya tau ini bukan wewenang bapak . cuma saya ingi mengetahui permasalahan apa yang dihadapi oleh kab Abdya mengapa sk cpns belun juga keluar sementara kabupaten lain sudah!
mungkin bapak mempunyai informasi tentang apa yang terjadi pak!
saya mohon bapak beri kabar!
demikianlah pertanyaan saya pak lebih dan kurang saya mohon maaf